Tingkatkan Kebiasaan Membaca Bersama iJakarta

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=X5hNkcJFiBQ]



Membaca merupakan suatu kegiatan yang cukup impresif dan bermanfaat bagi sebagian orang termasuk saya. Muncul pertanyaan di benak saya tentang mengapa beberapa orang mengartikan kegiatan membaca sebagai suatu aktivitas yang membosankan sehingga kurang diminati. Terutama pada generasi muda Indonesia yang tergolong rendah menurut UNESCO.



Perkembangan dunia digital kerap dianggap sebagai penyebab daripada berkurangnya minat membaca di kalangan masyarakat terutama anak muda. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, berhala modern (baca: smartphone) yang tak pernah lepas dari genggaman tersebut seakan menjadi budaya baru dikalangan anak muda.



Perkembangan dunia digital tersebut membuat persepsi generasi muda untuk berpikir praktis dalam menjalani kehidupan termasuk dalam membaca. Tren dalam membaca di dunia digital kini mulai banyak diminati oleh generasi muda dimana kita ketahui maraknya penjualan e-book di dunia maya hingga penggunaan smartphone sebagai media baca (reader).



Mengikuti perkembangan yang terjadi tersebut membuat Gubernur DKI Jakarta yang kerap disapa Ahok ini meluncurkan pertama kalinya perpustakaan digital iJakarta. Perpustakaan digital ini merupakan inovasi baru dalam hal memfasilitasi tumbuhnya minat baca pada masyarakat generasi muda. Hal unik yang saya sukai dari aplikasi ini adalah tidak membuang sedikitpun esensi daripada perpustakaan fisik pada umumnya dimana masyarakat dapat meminjam buku secara cuma-cuma (baca: gratis) dengan jangka waktu tertentu dan bahkan harus antri apabila stok buku sedang dipinjam orang lain. Kecocokan generasi muda dengan aplikasi perpustakaan digital iJakarta ini telah saya ulas pada tulisan saya berikut “Perpustakaan Digital Untuk Generasi C”.



Pertanyaan saya pun timbul, mengenai hal apakah yang membuat aplikasi iJakarta menjadi lebih unggul dibandingkan perpustakaan digital seperti Watpadd, iPusnas, iSukabumi, dll. Kali ini saya akan sedikit mengkomparasi tentang iPusnas milik Perpustakaan Nasional RI yang merupakan repositori seluruh perpustakaan di Indonesia. Meski sejatinya kedua aplikasi ini memiliki tujuan yang sama serta dibangun oleh perusahaan yang sama yakni PT Woolu Aksara Maya, Namun dapat saya katakan iPusnas ini merupakan pesaing tangguh daripada iJakarta. Tentu saja, saya secara individu berpikir bahwa tidak mungkin saya memiliki dua buah aplikasi berbeda yang fungsinya sama didalam sebuah device. Hal ini perlu menjadi perhatian mulai dari konten serta fitur pendukung diantara keduanya, karena tentu pengguna termasuk saya akan memilih yang terbaik diantara keduanya.



[gallery ids="1417,1416,1415,1130" type="rectangular"]

iPusnas (biru), iJakarta (oranye) Dok. Pribadi



Yap meski secara keseluruhan aplikasi ini sama, Namun setelah saya bandingkan antara aplikasi perpustakaan digital iJakarta dengan iPusnas, saya menemukan sedikit perbedaan diantara kedua aplikasi perpustakaan digital ini:




  • Salah satu keunggulan iJakarta terdapat pada fitur donasi sedangkan fitur ini tidak terdapat pada iPusnas. Kelebihannya adalah aplikasi iJakarta dapat menjadi wadah daripada individu, komunitas ataupun lembaga yang ingin turut andil dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan minat baca di Indonesia. Donasi yang diberikan nantinya berupa e-book yang akan menambah koleksi dan stok buku aplikasi iJakarta.



[caption id="attachment_1412" align="aligncenter" width="202"]PhotoGrid_1472519415519 Dok. Pribadi[/caption]


  • Kategori e-book dalam iJakarta lebih sistematis dan terstruktur dibandingkan iPusnas. Hal ini akan memberikan kemudahan untuk para pembaca dalam memilih kategori buku sesuai minat dan passion-nya.



[gallery ids="1414,1410" type="columns"]

iPusnas (biru), iJakarta (oranye) Dok. Pribadi




  • Keunggulan terkuat daripada iPusnas adalah karena ia merupakan repositori dan fasilitator daripada seluruh perpustakaan di Indonesia sehingga menjadikannya brand kuat yang melekat pada iPusnas.



Jika kita berkaca pada perusahaan yang sukses dibidangnya semisal Apple yang tidak hanya menjual komputer, tapi menolong manusia dalam mencapai potensi terbaiknya. Kemudian Cisco yang tidak hanya menjual router, tapi menjual koneksi antar manusia dan yang biasa kita kunjungi adalah Starbuck yang tidak hanya menjual kopi, tapi menjual tempat ketiga setelah rumah dan kantor. Begitu juga dengan perpustakaan digital iJakarta harus mempunyai brand unik yang melekat. Meski kita ketahui iJakarta merupakan trend centre di kelasnya, sedangkan iPusnas yang masih tergolong baru ini bisa menjadi ancaman kuat bagi iJakarta karena bisa kapan saja pengguna iJakarta beralih kepada iPusnas apabila kualitas aplikasi iJakarta tidak dikembangkan lagi yang membuatnya layak dipertahankan.



Lantas timbul pertanyaan besar saya berikutnya, apakah cukup perpustakaan digital dapat mengubah perilaku masyarakat dalam hal ini generasi muda untuk seketika gemar membaca? Tentu tidak, karena aplikasi perpustakaan digital hanyalah fasilitas sedangkan habit (kebiasaan) membaca merupakan suatu minat yang harus dibiasakan dan bukan dipaksakan secara tiba-tiba.



Hal yang menjadi concern kita adalah bagaimana cara menumbuhkan minat dalam hal ini adalah membaca. Kita ketahui bersama bahwa minat adalah kesadaraan yang berkaitan dengan diri seseorang, sehingga kita tahu bahwa minat harus secara sadar dibiasakan terus menerus. Lantas faktor apa yang membuat tumbuhnya minat? Seperti yang saya kutip dari Heri P (1998) tentang faktor yang memperngaruhi minat diantaranya pekerjaan, sistem pendukung, pribadi individu.



Dari teori tersebut kita ketahui bahwa sistem pendukung telah banyak tersedia, baik pendukung konvensional berupa perpustakaan maupun pendukung perpustakaan digital berupa iJakarta. Lantas hal berikutnya yang menjadi penyebab minat dalam membaca adalah faktor pribadi individu untuk terbiasa membaca.



Saya termasuk orang yg gemar membaca sejarah, terutama sejarah strategi perang cina. Menurut Zhuge Liang (Panglima perang cina kerajaan shu zaman samkok abad ke-3) mengatakan bahwa sumber dari kekalahan perang adalah berasal dari meremehkan musuh. Dalam kaitannya dengan kondisi minat membaca, musuh yang mempengaruhi adalah kebiasaan buruk kita sendiri.  Kita semua tentu tahu tentang peribahasa “ala bisa karena biasa” (perbuatan buruk yang dilakukan berulang akan tidak terasa keburukannya lagi). Misalkan contoh sederhana yang kerap kita temui yakni kebiasaan siswa yang belajar hanya jika akan menghadapi ujian. Lantas bagaimana mengubahnya? Perlu adanya sosok figur yang dapat dijadikan percontohan dalam membaca dalam sehari-hari. Jika saya berkaca pada diri saya bahwa saya dibiasakan untuk membaca sehari-hari, begitu juga orang tua saya mencontohkannya mulai dari contoh kecil ayah saya yang gemar membaca koran, ibu saya yang gemar membaca majalah secara tidak sadar mempengaruhi saya untuk membaca apapun jenis bacaannya. Ditambah lagi dengan fasilitas pemerintah aplikasi perpustakaan digital di era ini seharusnya semakin membantu saya dan generasi muda lainnya untuk meningkatkan minat baca yang ada.



Sehingga kesimpulannya, perpustakaan digital iJakarta memang dirasa sangat bermanfaat bagi generasi muda dalam membaca buku kapanpun, dimanapun, dan tanpa batasan apapun. Namun yang perlu digaris bawahi adalah perpustakaan digital tidak berguna apabila dalam diri generasi muda tidak terdapat minat untuk membaca, sehingga dianggap perlunya program pembiasaan membaca untuk jangka panjang agar adanya rasa lapar, passion, dan keinginan kuat dalam diri generasi muda untuk membaca buku. So just keep reading, keep learning anytime and anywhere with iJakarta.



Artikel Ini Ditulis Untuk Mengikuti Lomba Konten Blog Dalam Rangka Hanjaba (Hari Anak Jakarta Membaca) 2016 yang diselenggarakan Oleh BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH #BloggerHanjaba

Komentar

  1. dengan adanya aplikasi ini semoga mampu mengubah kebiasaan generasi muda yang gemar membaca status galau menjadi gemar membaca e-book yang di tawarkan di i-jakarta

    BalasHapus
  2. bener banget ya perpustakaan ga ada gunanya kalo dari masyarakatnya memang tdk pnya minat bwt baca

    BalasHapus
  3. apa seharusnya ada program pemerintah atau gerakanuntuk wajib membaca disetiap sekolah?

    BalasHapus
  4. Saya sudah menggunakan iJakarta, dan efektif sekali untuk membaca dimanapun dan kapanpun, semoga aja bisa mnumbuhkan minat baca masyarakat. Sayangnya .. aplikasi tsb. masih terdapat bug-nya, seperti seringnya error saat login dan fitur pencarian tidak berfungsi dengan semestinya. Agak kecewa :( , Harapannya sih.. semoga bisa diperbaiki lagi nanti.
    ~Semoga sukses ya, hari ini. Btw, kita di lomba yang sama, ka. wkwk.

    BalasHapus
  5. hahaha bener banget mas sisko, biar ada bacaan berbobot yg gratis

    BalasHapus
  6. gerakan membaca memang pernah ada tapi itu gak berlangsung seperti yg kita harapkan, coba di googling mba hehe

    BalasHapus
  7. terima kasih atas komentarnya rizki,. iya kekurangna dari segi teknis memang banyak dikeluhkan hehe. aplikasinya sering crash.. semoga perbaikan terus dilakukan yahh :)

    BalasHapus
  8. wah keren nanti saya coba download ijakarta

    BalasHapus
  9. semoga aplikasi ijakarta ini dapat meningkatkan minat baca anak muda deh dikemudian hari. Perlahan tapi pasti.

    BalasHapus
  10. mantap ane malah baru tau kalo ada perpustakaan digital wkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer