Cara Kreatif dan Alternatif Atasi Limbah Makanan
Hadirkan inovasi seiring infrastruktur masa depan, itulah tema besar yang sedang gencar dilakukan oleh Kementerian PUPR. Sadarkah jikalau banyak dari kita yang tidak mengetahui arti penting dan cakupan infrastruktur bagi suatu negara. Sebagian orang memaknai infrastruktur hanyalah sebuah prasarana jembatan, jalan dan berbagai fasilitas yang hanya berwujud fisik. Padahal lingkup lingkup infrastruktur sangatlah luas cakupannya, seperti yang saya kutip dari wikipedia mengenai infrastruktur terdapat enam kategori yakni:
- Kelompok jalan (jalan raya dan jembatan)
- Kelompok pelayanan transportasi (rel, bandara, dan pelabuhan)
- Kelompok air (air bersih dan kotor, termasuk sistem air)
- Kelompok manajemen limbah (sistem manajemen limbah padat)
- Kelompok bangunan dan fasilitas olahraga
- Kelompok produksi dan distribusi energi (gas dan listrik)
Kali ini saya akan menyoroti perihal poin nomor empat yakni manajemen limbah tepatnya di kota saya, Jakarta. Permasalahan sampah menjadi momok besar dan anggapan buruk bagi sebagian besar warga jakarta. Terlebih tingkat kepadatan yang tinggi di Kota Jakarta diiringi oleh tingkat sampah yang semakin meningkat, tercatat menurut Dinas Kebersihan DKI Jakarta bahwa volume sampah tahun ini berkisar antara 6.500-7.000 ton per hari. Volume tersebut membuat kita unggul daripada kota-kota besar di Eropa yang hanya menghasilkan sampah sebesar 1.500-2.000 ton per hari, bangga bukan?
Jika kita berkaca dari negara-negara maju di dunia, sebut saja jepang yang secara pribadi dapat dikatakan negara yang sangat-sangat bersih dengan segudang ketertiban didalamnya. Tapi, tahukah kamu bahwa di tahun 70-an negara tersebut sama halnya dengan Indonesia yang memiliki permasalahan pelik perihal sampah. Jepang memerlukan waktu 10 tahun untuk bangkit dari keterpurukan sampah dengan merubah kebiasaan pola hidup yang menghasilkan banyak sampah. Dalam hal ini yang kita dapat ambil adalah ketegasan dan kebijakan strategis serta inovasi yang mudah diterapkan dari pemerintah terkait diantaranya Badan Litbang Kementerian PUPR. Namun yang terpenting adalah peran aktif daripada masyarakat dalam menanggapi dan melaksanakan kebijakan strategis tersebut.
Kembali kepada permasalahan limbah yang belum berujung ini. Dari keseluruhan limbah padat, sumbangsih sampah terbesar di Kota Jakarta salah satunya adalah limbah makanan. Institut makanan dan bioteknologi mencatat bahwa negara industri dan negara berkembang menghasilkan 670 juta ton makanan baik yang masih layak dikonsumsi. Sedangkan menurut FAO yang merupakan badan makanan dan pertanian dunia mengatakan bahwa sepertiga makanan yang masih dalam kondisi baik untuk konsumsi manusia dijadikan sebagai sisa buangan yang terbuang sia-sia.
[caption id="attachment_1181" align="aligncenter" width="286"]
Data Makanan Layak Santap yang Terbuang (foodbank.sg)[/caption]Limbah makanan tersebut terbagi atas empat jenis: pertama makanan yang tidak dimakan setelah dimasak. Kedua, makanan yang telah kadaluarsa. Ketiga, makanan sisa dapur atau makanan yang dibuang sebelum dimasak. Keempat, makanan yang belum atau hampir kadaluarsa namun telah dibuang. Nah kedua kondisi terakhir inilah yang menjadi titik fokus kita dan menjadi latar bagi beberapa masyarakat dunia yang peduli akan keselamatan makanan (food security) yang mencoba untuk sedini mungkin mencegah budaya dalam membuang-buang makanan (food looses and food waste) dengan membangun sebuah sistem dan pembelajaran akan arti pentingnya makanan.
Sebagai contoh, sering kita mengalami kondisi ketika memasuki sebuah restoran mewah atau hotel berbintang dengan segudang standarisasi yang sangat tinggi makanannya dengan harga yang bahkan tidak masuk akal? Yap hal tersebutlah yang membuat limbah makanan yang paling besar disumbangkan oleh restoran dan hotel. Hotel dan restoran memiliki standarisasi yang sangat tinggi terhadap suatu bahan makanan, bahkan untuk makanan yang sejatinya masih layak dikonsumsi, namun harus dibuang akibat terdapat bagian yang cacat atau tidak sesuai dengan standar makanan hotel dan restoran yang tinggi.
Kita juga pasti pernah mengalami kondisi ketika mendapati makanan kemasan yang hampir mendekati tanggal kadaluarsanya. Mengetahui hal tersebut, reaksi apa yang akan kamu lakukan? Saya yakin sebagian orang akan membuang makanan tersebut dengan alasan takut dan khawatir akan efek yang ditimbulkan. Padahal menurut Emma Warsa dari Love Food Hate Waste, label yang menunjukan tanggal kadaluarsa suatu produk menunjukan tanggal kualitas suatu makanan, jadi bisa saja makanan yang telah melewati masa kadaluarsa itu masih dapat dikonsumsi selama tampilan dan bau makanan masih dalam kondisi wajar.
Food bank, sebagai suatu inovasi kreatif yang tengah berkembang di beberapa negara maju ini sangatlah perlu dikembangkan secara eksplisit dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia. Selain permasalahan utama dalam mengurangi limbah sektor makanan, inovasi ini dirasa dapat membantu mengatasi kelaparan, memperkuat ketahanan pangan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian bangsa.
Kaitan antara limbah makanan dan foodbank disini adalah sebagai inovasi infrastruktur non-fisik yang menjembatani para penyumbang potensial seperti petani, pabrik makanan, distributor, hotel, restauran hingga rumah tangga yang memiliki makanan berlebih dan ingin disumbangkan. Dalam hal ini akan adanya suatu fasilitas sosial penyumbangan bahan makanan yang bersifat sustainable sehingga dalam jangka panjang, makanan yang masih layak dan terbuang sia-sia itu dapat bermanfaat lebih daripada menjadi limbah. Hasil akhirnya pun dirasa akan bermanfaat yakni permasalahan limbah dan tingkat kelaparan teratasi seperti halnya peribahasa “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”.
Memang di negara kita ini telah ada suatu hal serupa dalam hal penyumbangan bahan makanan, Namun hal tersebut masih berbentuk kegiatan keagamaan seperti idul adha, imlek dan kegiatan keagamaan lainnya. Namun disini peran foodbank sebagai infrastruktur pemerintah dalam bentuk non-fisik untuk membuatnya menjadi skema yang serupa secara terus menerus (sustainable) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menyelamatkan ratusan ton makanan layak santap yang terbuang sia-sia di Jakarta.
Foodbank ini lantas menjadi cara kreatif dan alternatif penanganan limbah makanan di Indonesia khususnya di Jakarta apabila penerapannya mendapat dukungan secara penuh dari pemerintah.
Don’t Bin It When You Can Still Eat It!
[gallery ids="1184,1183" type="rectangular"]
Inilah percontohan foodbank.sg milik singapore yang berhasil menuai kesuksesan dalam mengatasi permasalahan kelaparan, permasalahan limbah makanan, dan penyelamatan makanan yang masih layak dikonsumsi agar tidak terbuang sia-sia.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=cQi353IoBoE]
[caption id="attachment_1182" align="aligncenter" width="528"]
Alur Pergerakan Foodbank.sg[/caption]
#Sainsteklitbang
nice info...
BalasHapusThanks a lot.. anonymous
BalasHapus