3 Ends Plus Seputar Perempuan dan Anak
Bertepatan dengan hari blogger nasional yang jatuh pada 27/10/17 lalu seratus orang blogger di jabodetabek berkumpul menggunakan pakaian adat dari berbagai penjuru nusantara. Eitss tapi kegiatan kali ini bukan semata-mata untuk melakukan seremonial perayaan tersebut melainkan kegiatan yang jauh lebih penting dan berhubungan dengan kemanusiaan khususnya seputar perempuan dan anak.
Kegiatan ini dimotori oleh salah satunya oleh forum diskusi “Serempak.id”, apa kah itu? Yap serempak merupakan singkatan dari Seputar Perempuan dan Anak yang membahas serta menindaklanjuti isu dan permasalahan kejahatan terhadap perempuan dan anak.
Kali ini saya akan sedikit menyoroti perihal program KPPA yakni Three Ends (3ends) yang kini menjadi Three Ends Plus. 3ends tersebut merupakan program campaign untuk mengakhiri segala bentuk kejahatan, kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan dan anak. Program ini merupakan singkatan dari end violence against women (akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak), End human trafficking (akhiri perdagangan manusia), dan End barriers justice (akhiri ketidakadilan terhadap perempuan).
Kegiatan yang berlokasi di Binus FX Senayan ini dihadiri oleh Bapak Irwin Day (Praktisi IT), Ibu Irna Murwani (Dept of marketing Binus), Ibu Ani Berta (Blogger), Ibu Marhta Simanjuntak, dan Kang Maman Suherman (penulis best seller).
[gallery ids="1515,1516,1518" type="circle"]
[gallery ids="1520,1517" type="circle" columns="2"]
Tak bisa saya pungkiri sebagai laki-laki bahwa peran wanita masih kerap kurang dianggap baik dari kegiatan pekerjaan hingga maraknya pelecehan terhadap kaum wanita. Data menunjukan bahwa setiap 24 jam terdapat 35 perempuan korban kejahatan seksual. Melihat dari data tersebut saya merasa sangat miris karena jumlah tersebut hanyalah data korban yang melapor, nah bagaimana dengan yang tidak melapor? Ibaratkan teori gunung es yang tampak hanyalah sebagian kecil dan justru lebih banyak kasus yang tidak terlaporkan karena hal tertentu. Fakta yang beredar adalah unit pengaduan yang seharusnya menjadi tombak utama dalam permasalahan perempuan dan anak masih belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Perempuan itu lemah secara fisik jika dibandingkan dengan laki-laki, sering terjadinya kasus pelecehan dan kejahatan tersebut terjadi karena keterpaksaan, tanpa adanya daya atau kemampuan untuk melawan karena kebanyakan pelaku tindak kejahatan pada perempuan dan anak adalah orang terdekat yang mana bukan semata-mata tindakan memancing yang dilakukan korban Namun akibat otak kecil dari pelakunya yang tidak berpikir panjang akan kejahatan yang dilakukannya.
Disini ruang pengaduan yang aman dan nyaman sangat diperlukan dimana betul-betul hati perempuan yang akan bicara mengenai pelecehan yang menimpanya dan bukan justru diinterogasi dengan segudang pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu seperti pakaian yang minim menggoda atau apakah sang perempuan ikut bergoyang ketika proses kejadian, serta beragam pertanyaan make no sense lainnya yang mana pertanyaan seperti itu akan membuat perempuan dan anak takut, malu, dan enggan untuk melaporkan pelecehan yang dialaminya hingga pada akhirnya akan timbul rasa penyesalan dan menyalahi diri sendiri jika tidak adanya perlakuan lebih jauh.
Kita sebagai blogger bisa mengambil bagian pada hal ini yakni dengan membuat konten positif untuk mencerdaskan otak dangkal pelaku kejahatan terhadap perempuan dan anak. Blogger yang peduli akan hal ini harus meningkatkan power of content akan artikel yang ditulisnya agar timbulnya rasa sadar pada pelaku tindak kejahatan terhadap perempuan dan anak. Blogger yang baik harus senantiasa menyebarkan virus positif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat akan kejahatan terhadap perempuan dan anak yang semakin menjadi.
Selama ini kita ketahui bahwa pemberitaan mengenai perempuan cenderung negatif padahal masih banyak perempuan hebat dari segi prestasi dan kreativitas dari sabang sampai merauke ini belum terekspose media. Darah perempuan hebat dunia seharusnya masih mengalir di darah perempuan Indonesia, karena salah satu pejuang wanita Indonesia yang bernama Cut Nyak Dien dinobatkan sebagai salah satu perempuan terkuat dunia. Indonesia punya DNA perempuan paling kuat dan seharusnya jangan dilemahkan dengan berbagai perlakuan negatif.
Daya tahan manusia dalam satuan angka adalah 45 bit rasa sakit, dan rasa sakit perempuan ketika melahirkan diibaratkan seperti seluruh tulang rusuknya patah jauh melebihi 45 bit. Kalau saja laki-laki lebih kuat tugas melahirkan diberikan kepada laki-laki tapi karena tuhan tahu perempuan lebih kuat tugas itu diberikan kepada perempuan. Laki-laki berperang untuk membunuh manusia tapi perempuan berperang melawan kematian untuk melanjutkan kehidupan, ujar Kang Maman.
Perlu kita pahami khususnya saya sebagai anak muda bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan bukan hanya tentang perkosaan tapi kekerasan verbal, kekerasan lisan, cat calling (baca: siul-siul) juga termasuk kekerasan seksual karena dianggap menghina dan tidak menghargai martabat perempuan. Nah buat kamu yang sering cat calling untuk menggoda perempuan dikategorikan sebagai kekerasan seksual dan bisa dilaporkan jika dianggap melecehkan.
Kita memang sering mendengar ratusan campaign akan kesetaraan gender dan sering pula mengabaikan hal tersebut. Namun kini saya pahami bahwa perempuan bukan meminta hak yang istimewa, bukan pula meminta untuk diistimewakan, mereka ingin diakui keberadaannya dan dihargai tanpa adanya kesenjangan akan hak-hak yang layak dimiliki seorang perempuan.
Lalu kenapa campaign kesetaraan gender tak kunjung usai sejak dulu? Faktanya adalah masih banyak segi-segi yang belum memandang setara antara laki-laki dan perempuan seperti pengalaman yang saya kutip dari Kang Maman yang kaget ketika mengurus pajak NPWP istri dimasukan saja ke suami dan marah diruang dokter kandungan selalu bertanya siapa nama suami yang akan disebut dibelakang namanya, itu merupakan gambaran bahwa kita masih bias gender. Bayangkan apabila wanita hamil tersebut adalah orang tua tunggal yang tidak tahu siapa suaminya. Dengan alasan karena harus ada yang bertanggung jawab suaminya. Dengan kata lain perempuan dianggap tidak bertanggung jawab? Siapa bilang perempuan tidak dapat bertanggung jawab atas apa yang dialaminya. Kesetaran dan keadilan gender bukan hanya menjadi kalimat yang diucapkan saja tapi harus menjadi action.
Pelecehan terhadap perempuan bukan hanya melukai perempuan saja namun melukai seluruh kemanusiaan. Mari kita bersama tingkatkan awareness terhadap perempuan dan anak untuk menghapuskan kekerasan seksual, hindari perdagangan perempuan dan anak, hindari kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dan yang terakhir adalah menjadikan perempuan sebagai pilar penting dalam sebuah keluarga.
[gallery ids="1525,1524,1523" type="circle"]
Iya sih..aku pikir ketika perempuan memutuskan untuk meneruskan kehamilannya hingga dia hendak melahirkan, itu berarti satu hal. Yaitu dia siap utk bettanggung jawab.
BalasHapusmateri dan narasumbernya bener-bener keren, bikin blogger jadi lebih bersemangat untuk menulis hal-hal yang baik :)
BalasHapusbener banget mba
BalasHapusmantappp
BalasHapusSangat bermanfaat.. Terimakasih sudah berbagi.. Salam Kenal..
BalasHapusSalam kenal
BalasHapus