Perkebunan dan Industrialisasi

[gallery ids="821,820,819,818,817" type="slideshow" orderby="rand"]

Kesuksesan Perkebunan Tanpa Kemajuan Industrialisasi”, itulah tema diskusi dan konferensi pers yang cukup menegangkan hari itu (03/05). Kegiatan ini sekaligus dibarengi dengan peluncuran buku “Perkebunan Pemerdekaan Indonesia”.


Narasumber kali ini adalah Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, APU yang merupakan mantan dirjen perkebunan dan sekarang menjabat sebagai ketua asosiasi gula indonesia dan narasumber kedua adalah MT Felix Sitorus yang merupakan sosiolog agribisnis subang.


20160503_161112


Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, APU


Dari judul diskusi kali ini benar-benar menantang dan memicu perdebatan “Kesuksesan Perkebunan Tanpa Kemajuan Industrialisasi”. Pasalnya adalah pandangan minor sektor perkebunan yang menganggap sektor perkebunan telah berkembang pesat sementara tidak diimbangi oleh sektor industri. Fakta dan opini yang dibeberkan memang terasa benar faktanya industri indonesia belum menunjukan perkembangan yang optimal jika dibandingkan dengan perkembangan industri di negara ASEAN lainnya.


Hal tersebut menjadi sebuah ketergantungan antara perkembangan industri dan perkembangan perkebunan atau dengan kata lain, perkembangan perkebunan tergantung pada perkembangan industri suatu negara.


Sudut pandang saya sebagai seorang yang bergerak dibidang industri pun seakaan mendapat tamparan keras bahwasanya sektor perkebunan telah berusaha semaksimal mungkin, Namun sektor industri kurang memberdayakan hasil perkebunan indonesi sehingga bahan baku murah sektor perkebunan hanya dijual mentah tanpa diolah menjadi barang yang memiliki nilai tambah. Memang jika berbicara tentang industri, hal yang menjadi kesulitan adalah “ide”, Namun ide disini tidak terbatas, ujar Agus.


Pada dasarnya, kesulitan sektor perkebunan adalah segi lahan. Data menunjukan bahwa setiap tahunnya lahan perkebunan di indonesia berkurang setiap tahunnya. Padahal di negara ASEAN lain bahkan negara cina hingga USA, setiap tahunnya lahan terus mengalami peningkatan. Amerika serikat sudah menyadari pentingnya perkebunan dan pertanian sebagai sektor pangan atau dapat disebut sebagai agrarian reform mereka.


Pangan rakyat adalah soal hidup dan mati suatu bangsa, kemiskinan, kelaparan, dan ketinggalan bentuk dari ketidakmerdekaan.” -Bung Karno. Begitulah kira-kira anggapan bahwa industri perkebunan merupakan substansi untuk kita bangsa indonesia menjadi bangsa yang merdeka jauh dari kelaparan, kemiskinan, dan ketertinggalan.


20160503_114542


Majalah Media Perkebunan


Dalam bukunya Agus Pakpahan menggunakan kata “pemerdekaan” dalam hal ini adalah landasnya profitabilitas perkebunan indonesia. Indonesia memang memiliki status dengan luas lahan perkebunan terluas seperti contoh lahan sawit indonesia memiliki luas 400 kali jika dibandingkan luas jakarta. Namun faktanya kebanyakan hasilnya tidak dinikmati langsung oleh petani indonesia melainkan dimiliki oleh makelar-makelar luar dan hanya dijual sebagai bahan mentah. Dalam bukunya bapak agus betanya bahwa “apakah kita harus merelakan nilai tambah yang berkurang atau kesempatan kerja yang hilang?”. Dalam hal ini sindirannya terhadap sektor industri agar dapat memanfaatkan bahan baku murah hasil perkebunan sendiri untuk mendapat nilai tambah yang maksimal.



@mediaperkebunan


#MediaPerkebunan



 

Komentar

Postingan Populer