This is love, not a Sacrifice
Cinta bukan sesuatu hal yang dapat ditebak kedepannya, ya seperti layaknya perjalanan cintaku bersama nya yang tanpa basa-basi dan tanpa diduga-duga kehadirannya di jakarta. Semua berawal dari situs jejaring social di blackberry messenger. Ketika kami saling mengenal, semakin mengenal dan semakin dekat meski aku sadar akan jarak yang memisahkan kami, jogja-jakarta. Aku terkadang tidak perduli karena memang terkadang cinta dapat membutakan segalanya termasuk membutakan jarak diantara kita, membutakan hal lain nya yang sama sekali tidak masuk dalam logika.
Kisah cintaku kembali berlanjut, ketika kamu menginjakan kaki pertama kali di kota ini, jakarta namanya. Ketika sebuah kesempatan yang tidak terduga sebelumnya menghampiri dan akhirnya ketika sebuah harapan dan kesempatan menjadi sebuah penantian yang mana penantian tersebut terwujudkan sementara waktu dan akan menjadi penantian dimasa mendatang.
Hari itu, tepatnya siang itu di sebuah tempat yang telah kami sepakati bersama, cukup lama aku menunggumu dengan sabar, dan ketika sebuah pesan singkat berkata “aku udah sampai nih”, hati ini berasa ada yang berbeda. Ketakutan seakan menghampiri, ketakutan tentang hal apa yang pertama kali akan kukatakan padamu. Aku sejenak terdiam, berpikir dalam hati seakan ingin sembunyi, tapi untungnya aku dapat mengatasi ketakutanku.
Sedikit kebingungan saat mencari keberadaanmu di sebuah gedung perbelanjaan yang cukup luas. Ketika seorang wanita berjalan dengan sebuah handphone berwarna putih di telinga kanan nya datang dan kami saling bertatapan. Waktu seakan berjalan lama dan seakan berjalan mundur saat itu. Aku mulai menghampiri kamu secara perlahan disana. Rasa takut mulai sirna secara perlahan, Namun rasa gugup yang mulai datang menghampiri. Aku berusaha menekan rasa nerveous tersebut layaknya ingin menjadi diriku sendiri.
Kini kamu telah ada tepat di depanku, ternyata tak seperti dugaan ku. Hal pertama yang kulakukan adalah mulai bersalaman denganmu, lebih tepatnya kamu mencium tanganku :D
Detik demi detik seakan sangat berharga saat itu, ingin rasanya bisa mengingat detil tiap detik aktivitas denganmu, ketika berjalan disampingmu, canda dan tawamu yang cukup freak untuk mempesonaku.
Kepalamu yang tertunduk itu seakan menggambarkan kepribadianmu yang sesungguhnya, sekarang aku tau kamu. Aku tau ketika bibirmu mulai mengoceh sendiri karena suatu hal yang kamu anggap menyebalkan. Aku tau ketika kamu mulai menggigit-gigit kecil bibirmu ketika kamu mulai resah dan kebingungan. Aku perhatikan detil tiap inci dari gerakanmu.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam serasa menjadi beban berat, Namun inilah kenyataan. Kenyataan yang tidak bisa ditolak. Ketika berjalan bersamamu hati serasa tentram dan damai, ketika antri busway sampai sampai dikerjain sama mba mba petugas ticketing yang menyebalkan seakan mengurangi waktu berhargaku sama kamu.
Hari ini merupakan hari pertama aku berjumpa denganmu, hari ini juga merupakan pertama kalinya kamu menginjakan kaki di ibukota. Hari mulai beranjak sore, keinginanmu bertemu denganku telah terpenuhi, kini aku merasa kesedihan ini akan kembali dan bahkan bertambah parah lagi, aku merindukanmu dan akan merindukanmu. Ingin rasanya memutar waktu ini kembali ketika siang itu aku berjumpa denganmu, Namun sekali lagi inilah kenyataan...

(to be continue)
Kisah cintaku kembali berlanjut, ketika kamu menginjakan kaki pertama kali di kota ini, jakarta namanya. Ketika sebuah kesempatan yang tidak terduga sebelumnya menghampiri dan akhirnya ketika sebuah harapan dan kesempatan menjadi sebuah penantian yang mana penantian tersebut terwujudkan sementara waktu dan akan menjadi penantian dimasa mendatang.
Hari itu, tepatnya siang itu di sebuah tempat yang telah kami sepakati bersama, cukup lama aku menunggumu dengan sabar, dan ketika sebuah pesan singkat berkata “aku udah sampai nih”, hati ini berasa ada yang berbeda. Ketakutan seakan menghampiri, ketakutan tentang hal apa yang pertama kali akan kukatakan padamu. Aku sejenak terdiam, berpikir dalam hati seakan ingin sembunyi, tapi untungnya aku dapat mengatasi ketakutanku.
Sedikit kebingungan saat mencari keberadaanmu di sebuah gedung perbelanjaan yang cukup luas. Ketika seorang wanita berjalan dengan sebuah handphone berwarna putih di telinga kanan nya datang dan kami saling bertatapan. Waktu seakan berjalan lama dan seakan berjalan mundur saat itu. Aku mulai menghampiri kamu secara perlahan disana. Rasa takut mulai sirna secara perlahan, Namun rasa gugup yang mulai datang menghampiri. Aku berusaha menekan rasa nerveous tersebut layaknya ingin menjadi diriku sendiri.
Kini kamu telah ada tepat di depanku, ternyata tak seperti dugaan ku. Hal pertama yang kulakukan adalah mulai bersalaman denganmu, lebih tepatnya kamu mencium tanganku :D
Detik demi detik seakan sangat berharga saat itu, ingin rasanya bisa mengingat detil tiap detik aktivitas denganmu, ketika berjalan disampingmu, canda dan tawamu yang cukup freak untuk mempesonaku.
Kepalamu yang tertunduk itu seakan menggambarkan kepribadianmu yang sesungguhnya, sekarang aku tau kamu. Aku tau ketika bibirmu mulai mengoceh sendiri karena suatu hal yang kamu anggap menyebalkan. Aku tau ketika kamu mulai menggigit-gigit kecil bibirmu ketika kamu mulai resah dan kebingungan. Aku perhatikan detil tiap inci dari gerakanmu.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam serasa menjadi beban berat, Namun inilah kenyataan. Kenyataan yang tidak bisa ditolak. Ketika berjalan bersamamu hati serasa tentram dan damai, ketika antri busway sampai sampai dikerjain sama mba mba petugas ticketing yang menyebalkan seakan mengurangi waktu berhargaku sama kamu.
Hari ini merupakan hari pertama aku berjumpa denganmu, hari ini juga merupakan pertama kalinya kamu menginjakan kaki di ibukota. Hari mulai beranjak sore, keinginanmu bertemu denganku telah terpenuhi, kini aku merasa kesedihan ini akan kembali dan bahkan bertambah parah lagi, aku merindukanmu dan akan merindukanmu. Ingin rasanya memutar waktu ini kembali ketika siang itu aku berjumpa denganmu, Namun sekali lagi inilah kenyataan...

(to be continue)
Komentar
Posting Komentar